Keanekaragaman Hayati (Materi Pelajaran Biologi SMA/ MA Kelas 10)


Artikel yang terkait dengan judul :Keanekaragaman Hayati (Materi Pelajaran Biologi SMA/ MA Kelas 10)

Keanekaragaman Hayati (Materi Pelajaran Biologi SMA/ MA Kelas 10) ✓ Sesudah belajar mengenai bab ini diharapkan teman - teman bisa merumuskan konsep keseragaman dan keberagaman makhluk hidup dengan memperhatikan dengan teliti lingkungan. Semakin mengenal keanekaragaman yang ada di Indonesia maka akan berusaha untuk mejaga dan melestarikannya.
Dengan miningkatnya jumlah penduduk dan berkembangknya industri, eksploitasi terhadap keanekaragaman hayati (biodiversitas) juga semakin meningkat. Tiap - tiap tahun terjadi alih fungsi lahan, penggundulan dan pembakaran terhadap hutan, pemakaian bahan kimia seperti penggunaan pestisida yang berlebihan adalah merupakan contoh aktivitas manusia yang bisa menghancurkan keanekaragaman hayati. Ini berarti manusia sendiri yang akan mengalami kerugian, tindakan penyelamatan keanekaragaman hayati tidak dilakukan maka spesies yang hidup pada hari ini akan menuju kepunahan.

Daftar Isi

A. Tingkat Keanekaragaman Hayati
B. Keanekaragaman Hayati Indonesia
C. Nilai-Nilai Keanekaragaman Hayati Khas Indonesia
D. Pengaruh Kegiatan Manusia terhadap Biodiversitas
E. Pelestarian Keanekaragaman Hayati di Indonesia
F. Kebun Tanaman Obat Keluarga
G. Klasifikasi Makhluk Hidup

Keanekaragaman Hayati (Materi Pelajaran Biologi SMA/ MA Kelas 10)

Keanekaragaman Hayati

A. Tingkat Keanekaragaman Hayati

Keanekaragaman hayati (biodiversitas) adalah keanekaragaman dari organisme yang memperlihatkan secara keseluruhan atau totalitas variasi gen, jenis, & ekosistem di suatu daerah. Keseluruhan gen, jenis dan ekosistem adalah dasar kehidupan di muka bumi. Menilik akan pentingnya keanekaragaman hayati bagi kehidupan maka keanekaragaman hayati perlu untuk dipelajari dan juga dilestarikan. Lingkup dari keanekaragaman hayati (biodiversitas) meliputi berbagai bermacam perbedaan/ variasi bentuk, penampilan, jumlah, dan sifat-sifat yang nampak pada berbagai tingkatan, baik itu pada tingkatan gen, tingkatan spesies maupun pada tingkatan ekosistem. Berdasarkan pada hal itu, maka para pakar membedakan keanekaragaman hayati menjadi tiga tingkatan, yaitu keanekaragaman gen, keanekaragaman jenis dan keanekaragaman ekosistem.

1. Keanekaragaman gen

Gen atau plasma nuftah adalah substansi kimia yang menjadi penentu sifat keturunan yang terdapat di dalam lokus kromosom. Setiap makhluk hidup memiliki kromosom yang tersusun dari benang-benang pembawa sifat keturunan yang ada di dalam inti sel. Oleh karenanya semua organisme yang ada memiliki kerangka dasar komponen sifat menurun yang sama. Kerangka dasar tersebut terdiri dari ribuan hingga jutaan faktor menurun yang mengatur tata cara penurunan sifat organisme. Meskipun kerangka dasar gen semua organisme sama, akan tetapi komposisi atau susunan, dan jumlah faktor dalam kerangka bisa berbeda-beda. Perbedaan jumlah & susunan faktor tersebut akan menjadikan terjadinya keanekaragaman gen. Selain dari pada itu, setiap individu mempunyai  banyak gen, jika terjadi suatu perkawinan atau persilangan antar individu yang karakternya berbeda akan menghasilkan keturunan yang semakin banyak variasinya. Sebab pada waktu persilangan akan terjadi penggabungan gen-gen individu melalui sel kelamin. Hal tersebut yang menjadikan keanekaragaman gen semakin tinggi. Contoh keanekaragaman tingkat gen yaitu tanaman bunga mawar putih dengan tanaman bunga mawar merah yang mempunyai perbedaan, yaitu terletak pada segi warna bunganya. Pada perkembangannya, faktor yang menjadi penentu tidak cuma faktor gen saja, akan tetapi ada pula faktor lain yang berperan dalam mempengaruhi keanekaragaman hayati tersebut, yaitu lingkungan. Sifat yang muncul di setiap individu adalah bentuk interaksi antara gen dengan lingkungan. Dua individu yang memiliki struktur & juga urutan gen yang sama, belum tentu mempunyai bentuk yang sama ksrena terdapat faktor lingkungan yang mempengaruhi penampakan (fenotipe) atau bentuk. Sebagai contoh, orang yang hidup di wilayah pegunungan dengan orang yang hidup di daerah pantai mempunyai perbedaan dalam hal jumlah eritrositnya, dimana jumlah eritrosit orang yang hidup pada daerah pegunungan lebih banyak dibanding dengan orang yang hidup di pantai hal tersebut disebabkan adaptasi terhadap kandungan oksigen di lingkungannya. Pada daerah pegunungan kandungan oksigennya lebih rendah apabila dibandingkan di daerah pantai. Oleh karenanya fenotipe pipi orang pegunungan umumnya lebih kemerahan apabila dibanding orang yang hidup di pantai.
Keanekaragaman tingkat gen

2. Keanekaragaman jenis

Spesies atau jenis mempunyai arti individu yang memiliki persamaan secara morfologis, anatomis, fisiologis dan dapat saling kawin dengan sesamanya (inter hibridisasi) yang menghasilkan keturunan yang fertil (subur) untuk melanjutkan keturunannya. Keanekaragaman jenis menggambarkan semua variasi yang ada pada makhluk hidup antar jenis. Perbedaan antar spesies organisme pada satu keluarga lebih mencolok sehingga lebih mudah untuk dilakukan pengamatan daripada perbedaan antar individu dalam satu spesies. Pada keluarga kacang-kacangan, teman - teman mengenal adanya kacang tanah, kacang buncis, kacang hijau, kacang kapri, dan lain sebagainya. Dari jenis kacang-kacangan tersebut kita bisa secara mudah membedakannya sebab di antara jenis kacang-kacangan tersebut terdapat ciri khas yang sama. Namun, ukuran tubuh atau batang, kebiasaan hidup, bentuk buah dan biji, serta rasanya berbeda. Contoh yang lainkeanekaragaman jenis yaitu pada pohon kelapa, pohon pinang dan juga pada pohon palem.
Keanekaragaman tingkat spesies

3. Keanekaragaman ekosistem

Pengertian ekosistem adalah hubungan atau interaksi timbal balik antara makhluk hidup yang satu dengan makhluk hidup lainnya dan juga antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Setiap individu akan tumbuh dan berkembang apabila dilingkungan yang cocok atau sesuai. Pada suatu lingkungan akan dihuni oleh berbagai makhluk hidup karena lingkungan tersebut sesuai untuk masing - masing individu. Sehingga hal tersebut harus hidup secara berdampingan dengan penuh damai, dan mereka harus bisa menyatu dengan lingkungan tersebut. Pada lingkungan yang sesuai, maak makhluk hidup akan dibentuk oleh lingkungan, sebaliknya makhluk hidup yang terbentuk oleh lingkungan akan membetuk lingkungan tempat mereka berada. Sehingga dengan demikian terdapat interaksi yang dinamis antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Keadaan abiotik (tidak hidup) pada suatu daerah yang berbeda menjadikan jenis makhluk hidup (biotik) yang bisa beradaptasi dengan lingkungan tersebut berbeda-beda. Konsekwensinya yaitu permukaan bumi dengan variasi kondisi komponen abiotik yang tinggi akan menghasilkan suatu keanekaragaman ekosistem. Terdapat ekosistem hutan hujan tropis, hutan gugur, padang rumput, padang lumut, gurun pasir, sawah, ladang, air tawar, air payau, laut, dan lain sebagainya. Pada suatu wilayah, komponen biotik dan abiotiknya berbeda-beda baik secara kualitas komponen tersebut ataupun kuantitasnya. Hal tersebut yang membuat terbentuknya keanekaragaman ekosistem di muka bumi. Jika terjadi kepunahan pada salah satu anggotaekosistemnya maka akan terjadi gangguan terhadap kelangsungan hidup organisme yang lainnya. Suatu perubahan yang terjadi pada komponen - komponen ekosistem akan berpengaruh terhadap keseimbangan (homeostatis) ekosistem bersangkutan. Ekosistem merupakan suatu sistem sehingga antara yang satu dengan yang lainnya saling berkaitan. Sebagai contoh keanekaragaman hayati tingkat ekosistem adalah di daerah pantai banyak terdapat pohon kelapa, pohon aren banyak terdapat di daerah pegunungan, sedangkan untuk pohon palem dan pinang banyak tumbuh dengan baik di daerah dataran rendah.

B. Keanekaragaman Hayati Indonesia

1. Keanekaragaman hayati Indonesia berdasarkan karakteristik wilayahnya

Indonesia memiliki letak secara astronomis yaitu di 60 LU - 110 LS dan 950 BT - 1410 BT. Dari letak tersebut maka Indonesia terletak di wilayah iklim tropis sebab terdapat di antara 23½0 LU dan 23½0 LS. Adapun untuk ciri-ciri daerah tropis antara lain mempunyai temperatur udara cukup tinggi, yaitu 26 0C - 28 0C, curah hujan yang cukup tinggi (700 - 7.000 mm/tahun) dan mempunyai tanah yang subur karena proses pelapukan batuan berlangsung cukup cepat. Untuk hewan-hewannya, Indonesia mempunyai jumlah keragaman yang tinggi apabila dibandingkan dengan negara-negara yang lain. Hewan mamalia menduduki pada peringkat pertama di dunia hampir mencapai 515 jenis, 125 jenis diantaranya endemik, artinya tidak dijumpai pada daerah yang lainnya. Peringkat kedua diduduki oleh kupu-kupu meliputi 151 jenis. Hewan reptil menduduki peringkat ketiga dunia, lebih dari 600 jenis. Sedangkan untuk burung menduduki peringkat keempat yaitu mencapai 1519 jenis dan 420 jenis bersifat endemik. Untuk peringkat kelima diduduki oleh amfibi meliputi hampir 270 jenis.

Macam-macam tumbuhan khas & endemik di Indonesia antara lain :
  • Rafflesia arnoldii terdapat di pulau Jawa, Sumatera dan Kalimantan.
  • Matoa (Pometia pinnata) tumbuh di daerah Papua. 
  • Meranti (Shorea sp), Keruwing (Dipterocarpus sp) dan Rotan ( Liana sp ) banyak tumbuh di hutan Pulau Kalimantan.
  • Kayu  ramin (Gonystylus bancanus) terdapat di pulau Sumatera, Kalimantan dan Maluku.
  • Kayu besi (Euziderozylon zwageri) tumbuh di wilayah Jambi, Pulau Sumatra.
  • Sawo kecik ( Manilkara kauki) tumbuh di wilayah pulau Jawa.
  • Kepuh (Sterculia foetida) terdapat di Pulau Jawa.
  • Durian (Durio zibethinus) , Mangga (Mangifera indica) , Sukun (Arthocarpus communis) banyak terdapat di hutan pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi.
  • Kayu Cendana banyak terdapat di Nusa Tenggara. 
Berikut adalaj macam - macam hewan khas dan endemik di Indonesia antara lain:
  • Burung Cendrawasih (Paradisaea minor) dan Kasuari (Casuarius casuarius) banyak terdapat di Papua.
  • Macan Kumbang (Panthera pardus) & Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) ada di Pulau Jawa & pulau Sumatera.
  • Badak bercula satu (Rhinoceros sondaicus) berada di wilayah Ujung Kulon.
  • Komodo (Varanus komodoensis) di terdapat Pulau Komodo.
  • Burung Maleo (Macrocephalon maleo) di Pulau Sulawesi.
  • Penyu Hijau (Chelonia mydas) terdapat di pulau Jawa, Bali dan Sulawesi.
  • Jalak Bali (Leucopsar rothschildi) ada di pulau Bali.
  • Tapir (Tapirus indicus) ada di Pulau Sumatera.
  • Orang utan (Pongo pygmaeus) di pulau Sumatera dan Kalimantan.
  • Gajah (Elephas maximus) terdapat di Sumatra dan Kalimantan.

2. Keanekaragaman hayati Indonesia berdasarkan penyebarannya (Biogeografi)

Pengertian biogeografi adalah ilmu yang mempelajari tentang penyebaran makhluk hidup tertentu pada suatu lingkungan tertentu di bumi. Indonesia adalah  negara yang sangat kaya akan flora dan fauna yang tersebar di seluruh kepulauannya. Persebaran organisme yang berbeda tersebut dapat berdasarkan pada geografis, seperti ketinggian, garis lintang, dan keadaan iklim, misalnya curah hujan, suhu, dan radiasi cahaya. Biogeografi berdasarkan fauna dan floranya bisa dibagi menjadi dua, antara lain persebaran hewan dan persebaran tumbuhan.
garis wallace dan webber

a. Penyebaran hewan (zoogeografi)

Alfred Russell Wallace menjelaskan bahwa penyebaran hewan yang ada di bumi bisa dikelompokkan menjadi 6 daerah, antara lain.
1) Paleartik wilayahnya meliputi wilayah Asia Utara dan Eropa, hewan yang khas yaitu beruang eropa, bison dan rusa kutub.
2) Ethiopia wilayahnya meliputi wilayah Afrika, Arab, Madagaskar, hewan yang khas, seperti zebra, jerapah, gajah, dan gorila.
3) Oriental wilayahnya meliputi wilayah Asia Selatan dan Indonesia bagian barat, hewan yang khas yaitu harimau, gajah, tapir, dan kerbau.
4) Australia wilayahnya meliputi wilayah Australia, New Zealand dan Indonesia bagian timur. Hewan yang khas yaitu hewan yang berkantung, seperti kanguru.
5) Neortik wilayahnya meliputi wilayah Amerika Utara, hewan yang khas meliputi, binatang pengerat besar, yaitu berang-berang.
6) Neotropik wilayahnya meliputi wilayah Amerika Tengah dan Amerika Selatan, hewan yang khas yaitu kera dan tapir.

Indonesia letaknya termasuk dalam 2 daerah zoogeografi, yaitu oriental dan Australia. Yang termasuk wilayah zoogeografi oriental adalah bagian barat Indonesia, sedangkan untuk bagian timur termasuk daerah zoogeografi Australia. Berdasar pada sejarahnya, Indonesia bagian barat menyatu dengan benua Asia dan Indonesia timur menyatu dengan benua Australia. Oleh karena itu tidak mengherankan apabila jenis hewan dan tumbuhan yang ada di Indonesia barat mirip dengan hewan dan tumbuhan di Asia Tenggara atau oriental. Jenis hewan dan tumbuhan yang berada di Indonesia timur mirip dengan hewan dan tumbuhan yang berada di daerah biografi benua Australia.

b. Persebaran tumbuhan

Vegetasi adalah tumbuhan yang menutupi pada suatu daerah tertentu. Penentu persebaran tumbuhan antara lain dipengaruhi oleh faktor geologis, geografis (seperti ketinggian dan garis lintang) dan curah hujan. Semakin tinggi suatu daerah dari permukaan laut dan letak daerah tersebut semakin jauh dari garis lintang, maka di daerah tersebut suhunya akan semakin menurun. Setiap kenaikan ketinggian 100 meter dari permukaan laut dan kenaikan garis lintang sebesar 10 maka suhu daerah tersebut akan turun 50 C.

Macam-macam vegetasi dan ciri-cirinya adalah sebagai berikut:

1) Tundra, mempunyai ciri-ciri vegetasi rumput dan lumut kerak (Lichenes) dan terdapat di wilayah Skandinavia, Rusia, Siberia dan Kanada.

2) Taiga, mempunyai ciri-ciri vegetasi hutan hujan jarum (konifer) dan terdapat pada wilayah Skandinavia, Alaska, Kanada dan juga Siberia.

3) Hutan meranggas (4 musim), mempunyai ciri-ciri vegetasi hutan yang hijau pada musim panas dan menggugurkan daunnya pada musim dingin. Terdapat di wilayah iklim sedang, seperti Eropa, sebagian Asia dan Amerika.

4) Padang rumput, mempunyai ciri-ciri vegetasi tanpa pohon, tumbuhan berupa rumput (Graminae). Terdapat di wilayah Hongaria, Amerika Utara, Argentina dan Rusia Selatan.

5) Vegetasi gurun, memiliki ciri - ciri vegetasi dengan jumlah pohon yang sangat sedikit. Tumbuhannya yaitu jenis tumbuhan tahan kering (xerofit), berbunga dan berbuah dalam waktu pendek (efermer). Terdapat di wilayah gurun Gobi (RRC), gurun Sahara (Afrika Utara), gurun Kalahari (Afrika Selatan)

6) Sabana, mempunyai ciri-ciri vegetasi padang rumput dan pepohonan. Terdapat di wilayah Asia, Australia dan juga Indonesia.

7) Hutan hujan tropis, mempunyai ciri-ciri vegetasi tumbuhan hijau sepanjang tahun, pohon- pohon tinggi, jenisnya sangat banyak, terdapat tumbuhan yang menempel (epifit) dan tumbuhan yang memanjat pohon lain (liana). Terdapat di wilayah Asia, Afrika, Indonesia, dan Amerika Selatan.

8) Hutan bakau, mempunyai ciri-ciri vegetasi yang memiliki akar nafas karena tanah dan airnya miskin oksigen, contohnya Pohon Bakau (Rhizipora), kayu api (Avicinea) dan Sonneratia/jenis tumbuhan tahan kering (xerofit).  Terdapat di wilayah tropis dan subtropis pada zona pasang surut di tempat landai pada pantai.

9) Hutan lumut, mempunyai ciri-ciri vegetasi tumbuhan lumut dan terdapat di wilayah pegunungan.
Semua suku tumbuhan terwakili dengan baik di Indonesia.

3. Keanekaragaman hayati Indonesia berdasarkan ekosistem perairannya

Macam-macam lingkungan perairan (akuatik) akan membentuk ekosistem antara lain, ekosistem air tawar dan ekosistem air laut.

a. Ekosistem air tawar
Memiliki ciri-ciri salinitas atau kadar garam yang rendah, variasi suhu rendah, penetrasi atau paparan cahaya matahari kurang, adanya aliran air (ekosistem sungai), dan adanya pengaruh oleh iklim serta cuaca.
Berdasarkan intensitas cahaya yang diterima, pembagian habitat ekosistem air tawar bisa dibagi menjadi 3 zona, antara lain:
  • Litoral merupkan daerah dengan intensitas cahaya matahari yang mencapai dasar.
  • Limnetik merupakan daerah terbuka yang intensitas cahaya mataharinya bisa mencapai dasar.
  • Profundal merupakan daerah dasar yang dalam oleh karenanya cahaya matahari tidak bisa mencapainya. 
Organisme yang hidup pada ekosistem air tawar mempunyai karakteristik tertentu, misalnya tumbuhan rendah bersel satu mempunyai dinding sel yang kuat, sedang tumbuhan tingkat tinggi mempunyai akar sulur untuk melekat pada bagian dasar perairan, seperti tumbuhan teratai, kangkung, ganggang biru dan juga ganggang hijau. Sedangkan untuk karakteristik hewannya adalah mempunyai ciri-ciri mengeluarkan air yang berlebih, garam diabsorpsi (diserap) lewat insang secara aktif dan sedikit minum, air masuk dalam tubuh secara osmosis.

b. Ekosistem air laut
Adanya hempasan dari gelombang air laut maka di daerah pasang surut yang merupakan perbatasan darat dan laut terbentuk gundukan pasir, dan apabila menuju ke darat terdapat hutan pantai yang terbagi menjadi beberapa wilayah, antara lain
  • Formasi pescaprae, didominasi tumbuhan Vigna, Spinifex litorus , Ipomoea pescaprae , Pandanus tectorius.
  • Formasi baringtonia, tumbuhan yang khas, seperti Hibiscus tilliaceus , Terminalia catapa , Erythrina sp.
  • Hutan bakau, tumbuhan yang khas adalah Rhizopora (bakau), dan Acanthus.
Ciri-ciri ekosistem air laut yaitu
  • Salinitas tinggi terutama di daerah tropis, sedangkan di daerah dingin cukup rendah.
  • Ekosistem laut tidak dipengaruhi oleh iklim dan cuaca.
  • Arus laut yang selalu berputar timbul karena perbedaan temperatur dan perputaran bumi.
  • Di daerah tropis, seperti di Indonesia, air permukaan laut mempunyai suhu lebih tinggi dengan suhu air di bagian bawahnya sehingga air permukaan tidak dapat bercampur dengan air di lapisan bawah. Batas antara lapisan tersebut dinamakan batas termoklin.
Secara fisik, pembagian habitat air laut dibagi menjadi 4 zona, antara lain.
  • Litoral, adalah yang berbatasan dengan darat.
  • Netrik, adalah memiliki kedalaman sampai 200 meter.
  • Batial, adalah memiliki kedalaman 200 meter hingga 2000 meter.
  • Abisal, adalah memiliki kedalaman 2000 meter lebih.
Karakteristik organisme yang hidup di ekosistem air laut misalnya hewan & tumbuhan tingkat rendah mempunyai tekanan osmosis sel kira - kira sama dengan tekanan osmosis air laut, dengan demikian adaptasinya dapat dengan mudah dilakukan. Sedangkan, hewan bersel banyak, misalnya ikan, cara adaptasi yang dilakukan dengan cara melakukan banyak minum, sedikit mengeluarkan urin, pengeluaran air dilakukan secara osmosis, sedangkan garam mineral dikeluarkan secara aktif melalui insang.

C. Nilai-Nilai Keanekaragaman Hayati Khas Indonesia

Manfaat yang didapatkan dalam mempelajari keanekaragaman hayati, antara lain:
1. mengetahui manfaat setiap jenis organisme;
2. mengetahui antara organisme satu dengan lainnya saling ketergantungan;
3. memahami ciri-ciri dan sifat suatu organisme;
4. memahami adanya hubungan kekerabatan antar organisme;
5. memahami manfaat adanya keanekaragaman hayati dalam rangka untuk mendukung kelangsungan hidup manusia.

Terdapat adanya nilai manfaat dari keanekaragaman hayati untuk kehidupan manusia, diantaranya yaitu nilai biologi, nilai pendidikan, nilai estetika dan budaya, dan nilai ekologi, serta nilai religius.

1. Nilai biologi

Kebutuhan manusia atas pangan, sandang, obat-obatan, bahan bangunan, dan oksigen hampir 100 % karena jasa keanekaragaman hayati. Semua orang di dunia ini kebutuhan makanannya sangat bergantung kepada tumbuhan dan hewan. Para ilmuwan dunia mempercayai terdapat kira - kira 80.000 spesies tumbuhan bisa dikonsumsi. Akan tetapi, hanya sekitar 30 spesies saja yang dapat menyediakan 90 % kebutuhan gizi manusia. Sebetulnya alam masih menyimpan banyak keanekaragaman hayati yang belum tersentuh atau tergali oleh manusia. Banyak industri yang membutuhkan bahan baku dari keanekaragaman hayati hewan dan tumbuhan. Misalnya saja pada industri benang membutuhkan beberapa jenis tumbuhan dan hewan. Tumbuhan ada yang diambil batangnya, umbi, buah, bunga, daun, daging, susu, telur, dan lainlain. Industri kertas membutuhkan jutaan ton batang tumbuhan, begitu juga industri obat-obatan dan kosmetik memerlukan berbagai jenis hewan dan tumbuhan yang memiliki khasiat tertentu.

2. Nilai pendidikan

Pada tubuh makhluk hidup terdapat sumber gen yang secara alami sudah sesuai dengan alamnya. Oleh karena itu, lestarinya keanekaragaman hayati adalah syarat wajib untuk tetap memlihara tersedianya plasma nuftah atau sumber gen. Hal tersebut berarti menyediakan peluang untuk melakukan dan mengembangkan suatu penelitian demi pemulihan keanekaragaman hayati yang belakangan ini mengalami kecenderungan menyusut.

3. Nilai estetika dan budaya

Keanekaragaman hayati juga menyediakan pemandangan alam yang indah. Tidak mengherankan jika banyak wisatawan mancanegara senang untuk melakukan wisata ke tempat yang bernuansa alam misalnya berkunjung ke kawasan hutan alam, sungai, arung jeram, dan laut yang masih alami. Banyak keanekaragaman hewan memiliki bentuk fisik yang bagus atau perilaku yang lucu, sehingga menjadi incaran manusia untuk dikoleksi. Hewan-hewan yang mempunyai sifat tersebut bisa mendatangkan hiburan bagi manusia.

4. Nilai ekologi

Kehadiran keanekaragaman hayati di suatu wilayah sangat mempunyai peran dalam rangka untuk menjaga proses ekosistem, seperti daur zat, dan aliran energi. Selain itu, keberadaan keanekaragaman hayati tersebut, khususnya keberadaan keanekaragaman tumbuhan, memiliki peran besar dalam usaha menjaga tanah terhadap erosi dan terjaganya proses fotosintesis. Pada lingkup yang lebih luas, keanekaragaman tumbuhan bermanfaat untuk menjaga daerah aliran sungai serta stabilitas iklim.

5. Nilai religius

Adanya keanekaragaman hayati mempunyai fungsi untuk mengingatkan kita terhadap kebesaran Allah yang telah menciptakan alam raya dengan segala keindahan.

D. Pengaruh Kegiatan Manusia terhadap Biodiversitas

Slah satu komponen yang bisa mempengaruhi memengaruhi ekosistem adalah manusia karena manusia bisa melakukan kegiatan yang dapat meningkatkan produksi komponen biotik ekosistem, namun sebaliknya, karena ulah manusia juga bisa mengakibatkan terjadinya gangguan terhadap keseimbangan ekosistem. Berikut merupakan kegiatan-kegiatan manusia yang dapat menurunkan keanekaragaman hayati, antara lain:

1. Pembukaan hutan

Aktifitas manusia yang melakukan pembukaan hutan untuk lahan pertanian, perumahan, pertambangan dan industri karena terjadinya pertambahan populasi manusia akan berakibat terhadap keseimbangan ekosistem hutan. Adanya penggundulan hutan akan menimbulkan bahaya banjir. Kegiatan pembukaan hutan akan menghilangkan beribu-ribu spesies asli yang ada di hutan karena habitatnya telah rusak. Misalnya, semakin sulitnya ditemukan burung jalak putih bali karena habitatnya tergusur. Contoh lainnya adalah menurunnya populasi harimau jawa sebagai akibat dari menyempitnya habitat.

2. Eksploitasi sumber daya alam hayati yang berlebihan

Dengan bertambahnya populasi manusia yang sangat pesat menyebabkan terjadinya pengambilan sumber daya alam hayati oleh manusia bisa melebihi batas regenerasi dan reproduksi dari organisme tersebut. Hal tersebut menyebabkan kepunahan pada berbagai jenis makhluk hidup, sehingga akan menurunkan keanekaragaman hayati. Contohnya yaitu adanya perburuan orangutan untuk membuat obat, gading gajah untuk dikoleksi, perburuan beruang dan ular atau buaya untuk pembuatan tas maupun jaket kulit, dan lain sebagainya.

3. Pencemaran lingkungan

Peningkatan jumlah pemukiman dan industri menjadikan terciptanya limbah yang tentunya lingkungan menjadi tercemar, baik air, tanah atau udara. Pencemaran merupakan perubahan terhadap lingkungan sebagai akibat ulah manusia. Perubahan lingkungan tersebut akan memberikan tekanan terhadap makhluk hidup sehingga sangat membahayakan terhadap kelangsungan biodiversitas atau keanekaragaman hayati di muka bumi ini. Sebagai contohnya adalah semakin langkanya jenis-jenis ikan air tawar yang ada di sungai Ciliwung sebagai akibat pencemaran limbah industri, matinya ribuan ikan laut di Pantai Teluk Jakarta sebagai akibat pencemaran limbah industri, dan lain sebagainya.

4. Budidaya monokultur dan dampak negatif rekayasa genetik

Tujuan dari sistem pertanian monokultur adalah untuk meningkatkan produktivitas pangan, mempunyai pengaruh negatif terhadap jenis-jenis tumbuhan yang kurang bersifat unggul sebab menjadi kurang dibudidayakan, sehingga bisa hilang dari lingkungan dan kemudian mengalami kepunahan. Selain hal tersebut, pemakaian bibit unggul yang tahan terhadap hama dan penyakit sebagai hasil rekayasa genetika juga bisa menyebabkan erosi plasma nuftah bagi tanaman yang tidak tahan terhadap hama dan penyakit.

E. Pelestarian Keanekaragaman Hayati di Indonesia

Eksploitasi terhadap hutan tropis menjadi lahan pertanian dan juga penggundulan hutan, mempunyai dampak besar terhadap proses hilangnya sumber daya alam hayati. Indonesia mempunyai daftar terpanjang jenis tumbuhan dan hewan yang terancam mengalami kepunahan. Sudah ada paling tidak, sebanyak 126 jenis burung, 63 jenis hewan mamalia, dan 21 jenis hewan melata yang dinyatakan terancam punah. Populasi kayu ramin menipis, kayu gaharu, dan kayu cendana terancam mengalami kepunahan. Menurunnya keanekaragaman hayati tersebut maka manusia harus melakukan usaha untuk melestarikan dan mengembangkan keanekaragaman hayati. Terdapat dua cara pelestarian keanekaragaman hayati di Indonesia, yaitu pelestarian 1). In situ dan 2). Ek situ.

1. Pelestarian In situ
Adalah suatu usaha untuk melestarikan sumber daya alam hayati di habitat atau tempat aslinya. Hal tersebut dilaksanakan dengan mempertimbangkan karakteristik tumbuhan atau hewan tertentu sangat membahayakan kelestariannya jika dilakukan pemindahan ke tempat lainnya. Sebagai contohnya sebagai berikut.
  • Suaka margasatwa untuk hewan komodo yang berada di Taman Nasional Komodo, Pulau Komodo.
  • Suaka margasatwa untuk hewan badak bercula satu yang berada di Taman Nasional Ujung Kulon, Jawa Barat.
  • Pelestarian bunga Rafflesia di Taman Nasional Bengkulu.
  • Pelestarian terumbu karang di Bunaken.
2. Pelestarian ek situ
Adalah suatu upaya pelestarian yang dilakukan dengan cara memindahkan ke tempat lain yang lebih cocok bagi perkembangan kehidupannya. Sebagai contohnya seperti yang berikut ini.
  • Kebun Raya dan Kebun Koleksi untuk menyeleksi berbagai macam tumbuhan langka dalam upaya melestarikan plasma nuftah.
  • Penangkaran jalak bali di kebun binatang Wonokromo.

F. Kebun Tanaman Obat Keluarga

Salah satu cara yang dapat dilakukan dalam rangka untuk melestarikan keanekaragaman hayati secara nyata dan untuk pemenuhan akan kebutuhan dapur dan tanaman obat maka kita bisa membuat kebun tanaman obat, baik di lingkungan sekolah maupun dilingkungan rumah kita. Dengan kegiatan ini diharapkan tidak akan terjadi kelangkaan terhadap tanaman obat akibat konsumsi obat-obatan kimia dan meninggalkan fungsi tanaman obat-obatan tradisional bagi kesehatan.

G. Klasifikasi Makhluk Hidup

Makhluk hidup yang memiliki ciri dan sifat yang sama dikategorikan ke dalam satu kelompok, dan jika dalam persamaan tersebut terdapat perbedaan ciri dan sifat, maka dipisahkan lagi ke dalam kelompok lain yang lebih kecil lagi, sehingga dengan demikian dalam kegiatan klasifikasi akan didapatkan kelompok-kelompok makhluk hidup dengan jenjang yang berbeda. Pengelompokkan hasil klasifikasi pada tingkat-tingkat yg berbeda atau pd takson yg berbeda disebut taksonomi. Semakin tinggi jenjangnya maka semakin banyak anggotanya, namun persamaan sifat yang dimiliki oleh anggotanya semakin sedikit.

1. Tujuan dan manfaat klasifikasi

Klasifikasi bisa mempunyai fungsi sebagai alat untuk mempelajari keanekaragaman hayati. Tujuan dari klasifikasi yaitu:
  • menyederhanakan objek studi supaya lebih mudah untuk dipelajari;
  • menggambarkan ciri-ciri makhluk hidup untuk membedakan tiap-tiap jenis;
  • mengelompokkan makhluk hidup berdasarkan pada persamaan ciri-cirinya;
  • mengetahui hubungan kekerabatan dan sejarah evolusinya.
Adanya klasifikasi makhluk hidup memiliki manfaat sangat besar yang langsung bisa dirasakan oleh manusia, yaitu sebagai berikut:
  • Pengklasifikasian melalui pengelompokkan bisa memudahkan dalam mempelajari organisme yang beraneka ragam.
  • Klasifikasi bisa dimanfaatkan untuk mengetahui hubungan tingkat kekerabatan antara organisme yang satu dengan yang lainnya.

2. Tahapan klasifikasi

Di dalam melakukan klasifikasi makhluk hidup harus melalui beberapa rangkaian tahapan. Adapun untuk tahapannya adalah sebagai berikut:
  • Pengamatan sifat makhluk hidup. Pengamatan adalah suatu proses awal dari klasifikasi, yang dilakukan dalam proses ini yaitu dengan melakukan identifikasi makhluk hidup satu dengan makhluk hidup yang lainnya. Mengamati dan mengelompokkan didasarkan pada tingkah laku, bentuk morfologi, anatomi, dan juga fisiologi.
  • Pengelompokkan makhluk hidup berdasarkan pada ciri yang diamati. Hasil dari pengamatan selanjutnya diteruskan ke tingkat pengelompokkan makhluk hidup. Dasar pengelompokkannya yaitu ciri dan sifat atau persamaan dan perbedaan makhluk hidup yang diamati.
  • Pemberian nama makhluk hidup. Pemberian nama suatu makhluk hidup adalah hal yang penting dalam klasifikasi. Terdapat berbagai macam sistem penamaan makhluk hidup, antara lain pemberian nama dengan sistem tata nama ganda (binomial nomenclature). Dengan pemberian nama pada makhluk hidup maka ciri dan sifat makhluk hidup tersebut akan lebih mudah dipahami dan dikenali.

3. Sistem klasifikasi

Berdasarkan kriteria yang dipakai, sistem klasifikasi makhluk hidup dibedakan menjadi tiga macam, yaitu 1). sistem buatan, 2). sistem alami, dan 3). sistem filogenik.

a. Sistem buatan
Sistem klasifikasi buatan lebih mengutamakan tujuan praktis dalam ikhtisar dunia makhluk hidup. Yang mengenalkan klasifikasi buatan adalah Carollus Linnaeus (1707-1778). Dasar klasifikasi yaitu ciri morfologi, alat reproduksi, habitat dan penampakan makhluk hidup (bentuk dan ukurannya). Misalnya, pada klasifikasi tumbuhan ada pohon, semak, perdu, dan juga ada gulma. Berdasarkan pada tempat hidupnya, dapat dikelompokkan hewan yang hidup di air dan hewan yang hidup di darat. Berdasarkan kegunaannya, misalnya makhluk hidup yang dimanfaatkan sebagai bahan pangan, sandang, papan dan obat-obatan.

b. Sistem alami
Klasifikasi makhluk hidup yang menggunakan sistem alami menginginkan terbentuknya takson yang alami. Klasifikasi alami dikemukakan oleh Aristoteles di tahun 350 SM. Klasifikasi tersebut didasarkan pd sistem alami, yg artinya suatu pengelompokan yg didasarkan pada ciri morfologi/ bentuk tubuh alami, oleh karenanya terbentuk takson-takson yang alami, misalnya hewan berkaki empat, hewan bersirip, hewan tidak berkaki, dan sebagainya.  Pada tumbuhan misalnya tumbuhan berdaun menyirip, tumbuhan berdaun seperti pita, dan sebagainya.

c . Sistem filogenik
Sistem klasifikasi filogenik didasarkan pada jauh dekatnya hubungan kekerabatan antara takson yang satu dan yang taksin yang lainnya sekaligus mencerminkan perkembangan makhluk hidup (filogenik), diperkenalkan oleh Charles Darwin (1859). Makin dekat hubungan kekerabatan maka makin banyak persamaan morfologi dan anatomi antar takson. Semakin sedikit persamaan maka makin besar perbedaannya, berarti makin jauh hubungan kekerabatannya. Misalnya, gorila lebih dekat kekerabatannya dengan orangutan jika kekerabatannya dibandingkan dengan manusia. Hal tersebut didasarkan pd tes biokimia setelah pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan, terutama ilmu pengetahuan mengenai kromosom, DNA, dan susunan protein organisme.

4. Takson dalam sistem klasifikasi

Di muka bumi ini terdapat banyak sekali jumlahnya dan juga sangat beraneka ragam jenisnya. Manusia menyadari akan adanya dua fenomena tersebut, dan mulai itu manusia berusaha untuk memahami kedua gejala tersebut dan mengungkapkan makna yang terkandung di dalamnya. Kesadaran dan usaha itulah yang kemudian melahirkan cabang ilmu hayat yang pada saat sekarang dikenal dengan nama ilmu taksonomi. Kita menamakan taksonomi hewan jika yang dijadikan objek studi adalah hewan, dan taksonomi tumbuhan jika yang dijadikan objek studi adalah tumbuhan. Menurut Wettstein seperti di dalam bukunya yang berjudul Handbuch Der Systematischer Botanik ,  menyatakan bahwa tugas taksonomi tumbuhan yaitu"Pengenalan (Identifikasi) jenis, baik yang ada di masa sekarang ataupun yang hidup pada masa perkembangan bumi yang telah silam, dan upaya untuk menggolongkan (mengklasifikasikan) ke dalam satu sistem yang di satu pihak sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dengan memberikan gambaran hubungan kekerabatan dalam sejarah perkembangan antara tumbuhan satu dan yang lainnya, serta di lain pihak dapat memenuhi kebutuhan yang praktis berupa ikhtisar ringkas dunia tumbuhan”. Betapapun panjangnya rumusan yang diberikan, akan tetapi tetap menjelaskan apa yang dimaksud dengan taksonomi tumbuhan. Namun  jika diperhatikan dengan saksama, sebetulnya unsur utama yang menjadi lingkup taksonomi tumbuhan adalah pengenalan (identifikasi) yang di dalamnya tercakup pemberian nama (klasifikasi). Istilah taksonomi berasal dari bahasa Yunani, yaitu taxis (susunan, penyusunan, penataan) atau taxon (setiap unit yang digunakan dalam klasifikasi objek biologi) dan nomos (hukum). Taksonomi diperkenalkan oleh seorang ahli taksonomi tumbuhan berkebangsaan Prancis di tahun 1813, untuk teori klasifikasi tumbuhan, sehingga tidak aneh apabila ada ahli biologi yang memberikan interpretasi taksonomi sebagai teori dan praktek mengenai pengklasifikasian makhluk hidup. Pada saat sekarang ini, kegiatan klasifikasi ini dirasakan sebagai sesuatu yang imperatif, yang tidak boleh tidak harus dilakukan dalam bidang ilmu manapun, apabila bidang ilmu yang bersangkutan menghadapi objek studi seperti yang dihadapi taksonomi tumbuhan. Oeh sebab itulah kita mengenal pula taksonomi hewan, dan apabila dalam kimia organik harus mempelajari bahan-bahan organik yang demikian besar pula jumlah, macam dan ragamnya, penanganannya pun dengan menggunakan pengklasifikasian bahan-bahan organik itu.

Klasifikasi yang bertujuan untuk menyederhanakan objek studi pada hakekatnya tidak lain yaitu untuk mencari keseragaman dari keanekaragaman. Meskipun besar keanekaragaman yang diperlihatkan oleh suatu populasi, pastilah bisa ditemukan diantara warga populasi itu kesamaan ciri-ciri atau sifat-sifat tertentu, entah berapa besar atau banyaknya kesamaan-kesamaan tersebut. Kesamaan atau keseragaman itulah yang merupakan dasar dalam melakukan klasifikasi. Warga suatu unit atau takson memiliki sejumlah kesamaan-kesamaan sifat. Takson yang warganya menunjukkan kesamaan sifat yang banyak tentulah takson yang lebih kecil daripada suatu takson yang warganya menunjukkan kesamaan yang lebih sedikit. Oleh karenanya keseluruhan tumbuhan yang ada di muka bumi ini bisa kita susun takson-takson besar dan kecil, yang bisa ditata menurut suatu hierarki, misalnya berturut-turut dari yang paling besar ke yang paling kecil atau sebaliknya. Jika suatu tumbuhan tunggal disebut sebagai analog, seperti yang diterapkan pada manusia sebagai suatu individu (individuum) dan seluruh tumbuhan yang ada di bumi ini disebut sebagai dunia atau kerajaan (regnum) tumbuhan, kemudian individu serta istilah dunia (regnum) kita pakai untuk menyebut berturut-turut takson yg terkecil hingga yang paling besar. Sesuai dengan kesepakatan internasional, berturut-turut dari yang besar ke yang kecil dapat kita tuliskan sebagai berikut.
urutan takson
Apabila kita mengambil takson atau kelompok utamanya saja maka tiap kingdom/regnum dibagi menjadi golongan yang lebih kecil, yaitu Divisio untuk tumbuhan, sedangkan Phyllum untuk hewan. Tiap divisi atau filum dibagi lagi dalam classis . Tiap classis dibagi lagi menjadi ordo , ordo dibagi menjadi beberapa familia dan familia dibagi menjadi genus, genus dibagi menjadi spesies atau jenis. Contoh klasifikasi pada manusia dari takson Kingdom sampai dengan Species bisa dilihat pada diagram berikut:
contoh takson

Kingdom animalia meliputi semua jenis hewan. Filum chordata, meliputi hewan yang bertulang belakang, kelas mamalia meliputi hewan bertulang belakang yang mempunyai rambut dan kelenjar susu. Ordo primata meliputi mamalia yang mempunyai anggota tubuh berupa tangan untuk menggenggam dan kaki untuk berjalan. Famili hominidae meliputi kera, manusia primitif dan
manusia modern. Genus homo meliputi hanya manusia primitif dan manusia modern, sedangkan untuk spesies sapiens hanya untuk manusia modern. Mulai tahun 1978 sistem klasifikasi mengenal tingkatan takson baru yang letaknya di atas Kingdom atau Regnum, yaitu tingkatan Domain. 3 domain pengelompokan makhluk hidup antara lain: Archaea (Eubacteria), Bacteria dan Eukarya. Sistem klasifikasi tiga Domain didasarkan atas urutan basa dalam RNA, sistem ini memberi penekanan lebih pada pemisahan evolusioner awal antara bakteri dan arkhae dengan cara menggunakan suatu takson superkingdom yang disebut dengan Domain. Sistem ini menekankan keanekaragaman biologis diantara protista. Domain Archaea (Eubacteria) terdiri dari satu kingdom Archaea dengan 2 filum, mempunyai ciri - ciri dalam garis evolusi yang lebih dekat dengan Eukariota. Domain bacteria tersusun atas satu Kingdom bacteria dengan 23 filum. Domain eukarya terdiri atas semua kingdom organisme eukariota, yang terdiri atas empat kingdom, yaitu Animalia, Plantae, Fungi, dan Protista.

5. Sistem tata nama ganda (binomial nomenclature)

Sebelum dipakai sebagai nama baku yang diakui dalam dunia ilmu pengetahuan, makhluk hidup diberi nama sesuai dengan nama daerah masing-masing, sehingga terjadi lebih dari satu nama untuk menyebut satu makhluk hidup. Contohnya, mangga ada yang menyebut poah, ada yang menyebut pauh, dan ada pula yang menyebut pelem. Nama pisang, di daerah jawa tengah disebut dengan gedang, sedangkan di daerah Sunda gedang berarti pepaya. Oleh sebab terdapat perbedaan penyebutan ini maka akan menjadikan salah pengertian sehingga informasi tersebut tidak tersampaikan secara tepat atau pun informasi tidak bisa tersebar luas ke daerah-daerah lain atau pun negara lain. Carollus Linnaeus seorang sarjana kedokteran dan ahli botani dari Swedia berhasil membuat sistem klasifikasi makhluk hidup. Untuk menyebutkan nama makhluk hidup, C. Linneaus memakai sistem tata nama ganda, yang aturannya seperti yang berikut ini:

a. Untuk  menulis nama Species (jenis)
  • Terdiri dari dua kata, dalam bahasa latin.
  • Kata pertama menunjukkan nama genus dan untuk kata yang kedua menunjukkan spesies.
  • Cara penulisan kata pertama adalah dengan diawali dengan huruf besar, sedangkan nama penunjuk spesies dengan memakai huruf kecil.
  • Jika ditulis dengan cetak tegak maka harus digarisbawahi secara terpisah antarkata, sedangkan apabila penulisannya dengan cetak miring maka tidak perlu digarisbawahi. Contohnya adalah untuk nama jenis tumbuhan Oryza sativa atau bisa juga ditulis seperti yang berikut ini: Oryza sativa (padi) dan Zea mays dapat juga ditulis Zea mays (jagung).
  • Jika nama spesies tumbuhan terdiri lebih dari dua kata maka kata kedua dan seterusnya harus disatukan atau bisa juga ditulis dengan tanda penghubung. Contohnya untuk nama bunga sepatu, yaitu Hibiscus rosasinensis ditulis Hibiscus rosa-sinensis. Sedangkan jenis hewan yang terdiri dari tiga suku kata misalnya Felis manuculata domestica (kucing jinak) tidak dirangkai dengan tanda penghubung. Penulisan untuk varietas ditulis seperti berikut ini yaitu, Hibiscus sabdarifa varalba (rosella varietas putih).
  • Jika nama jenis tersebut untuk mengenang jasa orang yang menemukannya maka nama penemu bisa juga dicantumkan pada kata kedua dengan menambah huruf (i) di belakangnya. Contohnya pada tanaman pinus yang diketemukan oleh Merkus, nama tanaman tersebut menjadi Pinus merkusii
b. Untuk menulis Genus (marga)
Nama genus tumbuhan maupun hewan terdiri dari satu kata tunggal yang bisa diambil dari kata apa saja, bisa dari nama hewan, tumbuhan, zat kandungan dan sebagainya yang merupakan karakteristik organisme tersebut. Huruf yang pertamanya ditulis dengan menggunakan huruf besar, contoh genus pada tumbuhan, yaitu Solanum (terung-terungan), genus pada hewan, contohnya Canis (anjing), Felis (kucing).

c . Untuk menulis nama Familia (suku)
Nama familia diambil dari nama genus organisme yang bersangkutan ditambah dengan akhiran -aceae untuk organisme tumbuhan, sedangkan untuk hewan diberi akhiran -idea. Contohnya yaitu nama familia untuk terung-terungan adalah Solanaceae, sedangkan contoh untuk familia anjing adalah Canidae.

d. Untuk menulis nama Ordo (bangsa)
Nama ordo diambil dari nama genus ditambah dengan akhiran ales, sebagai contohnya ordo Zingiberales berasal dari genus Zingiber + akhiran ales.

e . Untuk menulis nama Classis (kelas)
Nama kelas diambil dari nama genus ditambah dengan akhiran -nae, sebagai contohnya untuk genus Equisetum maka classisnya menjadi Equisetinae. Ataupun juga bisa diambil dari ciri khas organisme tersebut, misal saja Chlorophyta (ganggang hijau), Mycotina (jamur).

6. Klasifikasi alternatif

Seiring dengan kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, para ahli kemudian mengembangkan beberapa sistem klasifikasi makhluk hidup yaitu mengelompokkan makhluk hidup menjadi beberapa sistem kingdom, antara lain.

a. Sistem dua kingdom
Pada sistem ini membagi makhluk hidup menjadi 2 dunia, yaitu dunia hewan dan dunia tumbuhan. Dasar yang dipakai dalam klasifikasi ini yaitu ciri dan sifat tumbuhan yang mempunyai dinding sel keras seperti selulosa dan hewan yang memiliki sifat bisa bergerak aktif, dan berpindah tempat.

b. Sistem tiga kingdom
Pada sistem ini membagi makhluk hidup menjadi tiga dunia, antara lain : Plantae, Animalia dan Fungi. Dasa yang dipakai dalam sistem ini didasarkan pada cara mendapatkan nutrisi. Plantae (tumbuhan) adalah organisme yang bisa melakukan fotosintesis sehingga bisa untuk memenuhi kebutuhan makan diri sendiri maka disebut organisme autotrop. Animalia sebagai fagotrop, yaitu organisme heterotrop yang menelan makanan berbentuk padat dan menggunakan senyawa organik sebagai sumber energinya. Fungi merupakan organisme heterotrofik dan saprofitik yang memperoleh nutrisi dari organisme yang telah mati. Bila fungi mengambil nutrisi dengan cara mengambil dari organisme hidup lain maka disebut parasitik.

c . Sistem empat kingdom
Pada sistem empat kingdom mengelompokkan organisme menjadi empat dunia, antara lain : Plantae, Animalia, Fungi, dan Prokariotik. Prokariotik adalah organisme yang memiliki inti, namun untuk intinya tidak mempunyai membran inti.

d. Sistem lima kingdom
Menurut R.H. Whittaker mengelompokkan organisme ke dalam lima dunia yang didasarkan pada tingkat organisme, kondisi inti sel, dan nutrisinya. Kelima dunia tersebut adalah sebagai berikut.
  • Kingdom Monera. Kingdom ini meliputi makhluk hidup yang sangat sederhana. Termasuk ke dalam kingdom monera yaitu bakteri dan alga biru (Cyanophyta). Monera mempunyai sifat prokariotik, sel-selnya mempunyai nukleus atau inti sel yang tidak bermembran. Sel-selnya membelah secara sederhana, yaitu dengan amitosis. Kromosomnya tunggal dan berbentuk melingkar. Klorofil tersebar dan tidak terlindung oleh membran. 
  • Kingdom Protista. Yang termasuk ke dalam kingdom Protista yaitu organisme yang bersel tunggal bersifat eukariotik. Eukariotik berarti inti sel-selnya telah bermembran, meliputi protozoa dan alga. Sistem klasifikasi ini dirintis oleh Ernst Haeckel (1834-1919)
  • Kingdom Mycota. Kingdom ini terdiri atas makhluk hidup yang tidak mempunyai klorofil, oleh karenanya tidak bisa mensintesa makanan sendiri atau bersifat heterotrop, ada yang bersifat parasit, ada juga yang bersifat saprofit. Termasuk di dalamnya adalah berbagai jamur, misalnya jamur merang, jamur kuping dan juga jamur oncom.
  • Kingdom Plantae. Pada kingdom Plantae terdiri dari makhluk hidup yang bisa melakukan fotosintesis, yaitu makhluk hidup yang mempunyai klorofil, sehingga dapat hidup tanpa mengambil energi dari organisme lain. Makhluk itu disebut organisme autotrop. Termasuk di dalamnya adalah Bryophyta, Pteridophyta, dan Spermatophyta.
  • Kingdom Animalia. Pada kingdom animalia terdiri dari makhluk hidup eukariotik bersel banyak, bersifat heterotrop, meliputi Porifera, Platyhelminthes, Hydrozoa, Nematoda, Rotifera, Annelida, Molusca, Arthropoda, Echinodermata dan Chordata.
e . Sistem enam kingdom
Perkembangan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi membuat ilmuwan untuk selalu mengembangkan hasil penelitian termasuk pengelompokan terhadap makhluk hidup yang menjadi enam kingdom. Sistem pengelompokan 6 kingdom adalah Archaea (Eubacteria), Bacteria, Protista, Fungi, Plantae, dan Animalia . Kingdom Archea & Bacteria memiliki ciri - ciri yaitu: prokariotik, bahan genetik (DNA) tidak berstruktur dalam bentuk nukleus, DNA terdapat pada nuclear area (nukleoid), tidak mempunyai organel (organel tidak bermembran), umumnya lebih kecil dari sel eukariotik, kecuali bakteri Epulofosculum fishelsoni dan Thiomargarrita namimbiensis.

7. Klasifikasi tumbuhan

Dunia tumbuhan digolongkan menjadi Thallophyta, Bryophyta, Pteridophyta & Spermatophyta. Berikut teman - teman akan belajar bersama mengenai masing-masing kelompok tumbuhan tersebut dari yang paling rendah tingkatannya (Thallophyta) hingga tumbuhan yang paling tinggi tingkatannya (Spermatophyta). Pengelompokan dunia tumbuhan berdasarkan pada ciri-ciri karakteristik morfologidi dikelompokkan menjadi:

a. Thallophyta
Merupakan tumbuhan yang paling sederhana tingkatannya apabila dibandingkan dengan kelompok tumbuhan yang lain. Thallophyta adalah tumbuhan bertalus, yang berarti bahwa tumbuhan tersebut belum mempunyai organ tubuh yang jelas, seperti akar, batang, dan daun. Untuk melestarikan kehidupannya, tumbuhan ini mempunyai tubuh yang sederhana tetapi memiliki fungsi yang sama dengan organ tubuh tanaman pada umumnya.

b. Fungi (jamur)
Berdasarkan pada struktur tubuhnya, jamur dikelompokkan ke dalam tumbuhan tingkat rendah (Thallophyta), namun apabila dilihat dari ada tidaknya klorofil maka jamur dikelompokkan tersendiri, tidak dijadikan satu kelompok dengan tumbuhan yang lain. Jamur tidak mempunyai klorofil maka tidak dapat mensintesa sendiri makanan yang diperlukan. Mereka melakukan pengambilan dari sisa-sisa organisme & selanjutnya mencernanya dengan cara enzimatis. Karena suhu dan kelembaban yang tinggi maka di Indonesia ditemukan banyak sekali jamur dari berbagai jenis.

Jamur dikelompokkan menjadi beberapa golongan, yaitu. 1) Oomycotina (contoh: Pithium sp , Phytophora sp ), 2) Zygomycotina (contoh Rhizopus oryzae , Rhizopus nigricans ), 3) Ascomycotina (contoh: Saccharomyces crevice , Penicillium notatum ), 4) Basidiomycotina (contoh: Volvariella volvacea , Puccinia graminis ), 5) Deuteromycotina (contoh Chladosporium sp , Curvularia sp ).

c . Lumut kerak (Lichenes)
Lumut kerak adalah simbiosis antara alga hijau (Cyanophyta) dgn jamur dr  kelompok Ascomycotina atau Basidiomycotina. Di Indonesia lumut kerak tersebar luas lebih dari 1.000 jenis yang diketahui dari sekitar 2.500 jenis yang ada. Biasanya tanaman simbiosis ini hidup menempel pada kulit batang tanaman, dan dapat hidup di tempat lembap, karena alga memerlukan air untuk fotosintesis.

d. Tumbuhan lumut (Bryophyta)
Susunan tubuh tumbuhan lumut lebih kompleks apabila dibanding dengan Thallophyta. Dalam daur hidupnya terdapat adanya pergantian keturunan (metagenesis) antara turunan vegetatif dengan turunan generatif. Gametofit lebih menonjol apabila dibanding sporofit. Gametofit adalah turunan vegetatif yang melekat pada substrat dengan menggunakan rizoid. Sporofit adalah  turunan vegetatif yang berupa badan penghasil spora (sporangium). Sporofit itu tumbuh pada gametosit bersifat parasit. Habitatnya di daratan yang lembab, ada pula yang hidup sebagai epifit. Tubuhnya tidak memiliki berkas pembuluh (vaskular seperti pembuluh xilem dan floem). Berdasarkan pada struktur tubuhnya dibedakan atas lumut hati (Hepaticae) dan lumut daun (Musci).

e . Tumbuhan paku-pakuan (Pteridophyta)
Tumbuhan paku-pakuan sudah mempunyai akar, batang dan daun, oleh karenanya tingkatannya lebih tinggi dibanding tumbuhan lumut. Pada batang sudah terdapat adanya jaringan pengangkut xilem dan floem yang teratur. Seperti halnya pada lumut, tanaman ini dalam reproduksinya mengalami metagenesis, turunan gametofit dan sporofitnya bergantian. Sporofit yang bersifat autotrop merupakan tumbuhan yang sempurna, sehingga mempunyai usia yang relatif panjang jika dibandingkan dengan gametofitnya. Generasi gametofitnya berupa protalium, merupakan tumbuhan yang tidak sempurna meskipun bersifat autotrop. Oleh karena itu, usianya relatif pendek. Ciri morfologis yang terlihat adalah ujung daun yang masih muda terlihat menggulung. Embrionya mempunyai kutub dua (bipolar), sedangkan untuk tumbuhan dewasanya berkutub satu (monopolar). Tumbuhan paku-pakuan dapat tumbuh dengan baik pada lingkungan yang lembap dan ada beberapa jenis paku-pakuan yang dapat hidup di dalam air.

f . Spermatophyta
Dilihat dari struktur tubuhnya, anggota Spermatophyta adalah tumbuhan tingkat tinggi. Organ tubuhnya lengkap & juga sudah sempurna, telah terlihat adanya perbedaan antara akar, batang & daun yang jelas atau sering disebut dengan tumbuhan berkormus (Kormophyta). Sporofit adalah tanaman yg utama, sedangkan untuk gametofitnya merupakan bagian tanaman yang nantinya akan mereduksi. Anggota Spermatophyta adalah tumbuhan yang memanfaatkan biji sbg alat reproduksi, melalui fertilisasi antara spermatozoid yang dibentuk dalam kepala sari dengan ovum dalam kandung lembaga. Hasil fertilisasi akan disimpan dalam biji yang dilindungi oleh kulit biji dan akan disuplai nutrisi dari endosperm (cadangan makanan).

Pengelompokan Spermatophyta berdasarkan pada kondisi bijinya dapat digolongkan menjadi tumbuhan berbiji terbuka (Gymnospermae) &tumbuhan berbiji tertutup (Angiospermae)

1 ) Gymnospermae
Ciri morfologi tumbuhan Gymnospermae yaitu berakar tunggang, daun sempit, tebal dan kaku, biji terdapat dalam daun buah (makrosporofil) dan serbuk sari terdapat dalam bagian yang lain (mikrosporofil), daun buah penghasil dan badan penghasil serbuk sari terpisah dan masingmasing disebut dengan strobillus. Ciri - ciri anatominya yaitu mempunyai akar & batang yg berkambium, akar mempunyai kaliptra, batang tua & batang muda tidak mempunyai floeterma atau sarung tepung, yaitu endodermis yang mengandung zat tepung. Pembuahan tunggal & jeda waktu antara penyerbukan dgn pembuahan relatif lama. Berkas pembuluh angkut belum berfungsi dengan  sempurna berupa trakeid. Yang termasuk dalam golongan ini yaitu Cycas rumphii (pakis haji), Ginko opsida (ginko).

2 ) Angiospermae
Adapun tanaman angiospermae mempunyai ciri - ciri antara lain : mempunyai bunga yg sesungguhnya, bentuk daun pipih dan lebar dengan susunan daun yang bervariasi, bakal biji tidak tampak terlindung dalam daun buah atau putik, terjadi pembuahan ganda, pembentukan embrio dan endosperm berlangsung dalam waktu yang hampir bersamaan.

Penggolongan Angiospermae berdasarkan pada keping biji (kotiledon) dibedakan menjadi dua kelas yaitu. a) Monokotiledon, adalah tumbuhan yang mempunyai keping biji tunggal. Untuk contohnya adalah kelapa (Cocos nucifera), melinjo (Gnetum gnemon) . b) Dikotiledon, adalah tumbuhan yang mempunyai keping biji dua. Contohnya petai (Parkia speciosa ), cabe rawit (Capsicum frustescens) . Berikut adalah perbedaan morfologi dan anatomi monokotiledon dengan dikotiledon.
perbedaan dikotil dan monokotil

8. Determinasi atau identifikasi

Selain mengadakan klasifikasi, tugas utama taksonomi lainnya yang penting yaitu pengenalan atau identifikasi. Melakukan identifikasi tumbuhan mempunyai arti mengungkapkan atau menetapkan identifikasi ("jati diri") suatu tumbuhan, yang dalam hal ini tidak lain adalah menentukan namanya secara benar dan tempatnya yang tepat dalam sistem klasifikasi. Untuk istilah identifikasi sering juga digunakan istilah determinasi yang diambil dari bahasa Belanda, yaitu dari kata determinatie yang mempunyai arti penentuan. Untuk menentukan nama jenis atau kelompok organisme yang diteliti, digunakan cara identifikasi dengan menyamakan ciri-ciri yang ada dengan ciri-ciri yang tercantum dalam kunci determinasi.

Baca juga : Biologi Sebagai Ilmu
Keanekaragaman Hayati
Demikian artikel yang berjudul Keanekaragaman Hayati (Materi Pelajaran Biologi SMA/ MA Kelas 10) yang semoga bermanfaat. Terimakasih.

Artikel www. Aanwijzing.com : Ayo membaca...!!! Lainnya :

Copyright © 2016 Aanwijzing.com | Google.com | Google.co.id | Design by Bamz | Powered by Blogger.