PERJUANGAN MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN INDONESIA (Pelajaran IPS SMP/ MTs Kelas IX)

Artikel yang terkait dengan judul :PERJUANGAN MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN INDONESIA (Pelajaran IPS SMP/ MTs Kelas IX)

PERJUANGAN MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN INDONESIA (Pelajaran IPS SMP/ MTs Kelas IX) ✓ Meskipun bangsa Indonesia sudah memproklamirkan kemerdekannya, namun ternyata Bangsa Eropa (Belanda) mempunyai keinginan untuk menjajah kembali. Untuk Itu dalam rangka untuk mempertahankan kemerdekaan dilakukan dengan mengangkat senjata dan juga dengan cara diplomasi. Dalam bab ini, teman-teman akan mempelajari tentang bagaimana perjuangan bangsa Indonesia mempertahankan kemerdekaan yang telah dikumandangkannya.

Daftar Isi

1. Konflik Indonesia-Belanda
2. Perjuangan Rakyat Di Berbagai Daerah
3. Peran Dunia Internasional
4. Aktivitas Diplomasi
5. Pengaruh Konflik Indonesia-Belanda

PERJUANGAN MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN INDONESIA (Pelajaran IPS SMP/ MTs Kelas IX)

PERJUANGAN MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN INDONESIA

Konflik Indonesia-Belanda

Latar Belakang

Kemerdekaan yang dibacakan pada tanggal 17 Agustus 1945 memperoleh simpati dari bangsa lainnya melalui pengakuan bangsa lain atas kemerdekaan Indonesia. Oleh karena merupakan negara yang telah merdeka, maka pada tanggal 18-8-1945 ditetapkan Undang-Undang Dasar (UUD 1945) dan pemilihan Presiden yaitu Bung Karno dan wakilnya adalah Bung Hatta. Pada awalnya bangsa Indonesia menyambut sekutu dengan suka cita karena mereka mengumandangkan perdamaian. Namun setelah diketahui bahwa Netherlands Indies Civil Administration  (NICA) yang di bawah pimpinan Van der Plass dan Van Mook ikut di dalamnya, maka sikap rakyat Indonesia menjadi curiga dan bermusuhan.

Pada awalnya bangsa Indonesia menyambut dengan gembira atas kedatangan sekutu, oleh sebab sekutu mengumandangkan perdamaian. Namun lama kelamaan diketahui bahwa NICA merupakan organisasi yang didirikan oleh orang Belanda yang melarikan diri ke Australia karena Belanda menyerah kepada Jepang. Kemudian NICA mempersejatai lagi KNIL sesudah dilepas oleh sekutu dari tawanan Jepang, kondisi ini juga mempurburuk suasana. Terdapat suatu keinginan dari Belanda untuk berkuasa lagi di Indonesia dan menimbulkan pertentangan, bahkan terjadi perlawanan terhadap NICA dan Sekutu.Tugas sekutu yang dalam hal ini adalah oleh Allied Forces Netherlands East Indies (AFNEI) ternyata mempunyai misi yang terselubung.
Kedatangan sekutu yang diboncengi oleh NICA (orang belanda yang lari ke Australia), dan mereka mempunyai keinginan untuk menghidupkan kembali Hindia Belanda, sehingga rakyat Indonesia mulai melawan sekutu.

Perjuangan Menghadapi Sekutu dan NICA

Adanya kekalahan Jepang kepada sekutu pada tanggal 14 Agustus 1945, menunjukkan de jure jajahan Jepang dikuasai oleh sekutu sebagai pihak yang menangg di dalam Perang Dunia II. Komando Pertahanan Sekutu yang berada di kawasan Asia Tenggara dengan pusannya berada di Singapura adalah South East Asia Command (SEAC) membentuk divisi yang bernama AFNEI. Tugas yang diemban AFNEI adalah untuk mengambil alih Indonesia dari tangan Jepang. Pasukan tersebut dipimpin oleh Letnan Jenderal Sir Philip Christison. Tugas yang dibebankan kepada mereka antara lain:
a. menerima penyerahan kekuasaan dari Jepang,
b. membebaskan para tawanan perang dan interniran Sekutu,
c. melucuti terhadap orang-orang Jepang, kemudian memulangkannya.
d. menciptakan keamanan dan perdamaian,
e. menghimpun keterangan untuk penyelidikan terhadap pihak-pihak yang dianggap sebagai penjahat perang.

Pada tanggal 29 September 1945 pasukan AFNEI melakukan pendaratan di Jakarta yang terdiri atas 3 divisi, antara lain
  1. Divisi India ke-23 yang penempatannya adalah di wilayah Jawa Barat yang dipimpin oleh Mayor Jenderal D.C. Hawtowrn 
  2. Divisi India ke-5 yang penempatannya adalah di wilayah Jawa Timur dipimpin oleh Mayor Jenderal E.C. Mansergh 
  3. Divisi India ke-26 yang penempatannya adalah di wilayah Sumatera yang dipimpin oleh Mayor Jenderal HM. Chambers

Perjuangan Rakyat Di Berbagai Daerah

Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya

Peristiwa Surabaya merupakan kumpulan dari berbagai peristiwa yang diawali dari kedatangan tentara sekutu dengan bendera AFNEI. Untuk Surabaya, Sekutu menempatkan Brigade 49 yang dipimpin oleh Brigjen A.W.S. Mallaby, yaitu bagian dari divisi ke-23 Sekutu. Brigade tersebut mendarat pada tanggal 25 Oktober 1945. Pada awalnya, sebenarnya pemerintahan Jawa Timur sudah enggan untuk menerima kedatangan sekutu, namun kemudian dilakukan kesepakatan antara Gubernur Jawa Timur R.M.T.A. Suryo dengan Brigjen A.W.S. Mallaby. Isi kesepakatan tersebut yaitu:
a. Inggris berjanji tidak akan mengikutsertakan angkatan perang Belanda
b. menjalin kerja sama antara kedua pihak supaya tercipta kemanan dan ketentraman
c. akan dibentuk kontrak biro
d. Inggris akan melucuti senjata Jepang

Bermodalkan kesepakatan tersenut, maka Inggris diperbolehkan untuk masuk ke kota Surabaya,  namun pihak Inggris ingkar terhadap kesepakatan yang telah dibuatnya. Hal ini terlihat dari penyerbuan penjara Kalisosok 26 Oktober 1945. Inggris menduduki pangkalan udara Tanjung Perak tanggal 27 Oktober 1945, serta mereka menyebarkan pamflet yang isinya adalah memerintahkan kepada rakyat Surabaya dan Jawa Timur supaya menyerahkan senjata-senjata mereka. Pertempuran antara pasukan Sekutu dengan rakyat Surabaya telah terjadi sejak tanggal 27 Oktober 1945. Oleh sebab dikhawatirkan kontak senjata meluas, maka Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Moh. Hatta melakukan perundingan. Kedua belah pihak merumuskan hasil perundingan seperti yang berikut ini.
  • Surat-surat selebaran/pamflet dianggap tidak berlaku 
  • Serikat mengakui atas keberadaan TKR dan Polisi Indonesia 
  • Seluruh kota Surabaya tidak lagi dijaga oleh Serikat, sedangkan untuk kamp-kamp tawanan penjagaannya dilakukan secara bersama-sama Serikat dan TKR 
  • Tanjung Perak dijaga secara bersama TKR, Serikat, dan Polisi Indonesia
Meskipun telah adanya kesepakatan, namun tetap saja terjadi bentrok antara rakyat Surabaya yang bersenjata dengan Serikat. Pertempuran yang seru terjadi di Gedung Bank Internatio di Jembatan Merah. Gedung tersebut dilakukan pengepungan oleh para pemuda yang menuntut supaya pasukan A.W.S. Mallaby menyerah, namun tuntutan tersebut ditolak oleh pihak serikat. Oleh sebab begitu gencarnya pertempuran yang terjadi di sana, akibatnya terjadi kejadian yang fatal, yaitu meninggalnya A.W.S. Mallany yang tertusuk bayonet dan bambu runcing. Peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 30 Oktober 1945. Dengan adanya kejadian tersebut, pihak Inggris mengultimatum rakyat Surabaya dan meminta pertanggungjawaban. Sekutu mengultimatum kepada rakyat Surabaya supaya menyerah dan akan dihancurkan jika tidak mengindahkan seruan tersebut. Selain itu, pemuda Surabaya yang bersenjata harus menyerahkan senjatanya. Namun peringatan dari pihak Sekutu ditolak rakyat Surabaya melalui pernyataan dari Gubernur Soerjo. Dengan adanya penolakan tersebut, maka pada tanggal 10 Nopember 1945 terjadi pertempuran. Pasukan sekutu mengerahkan pasukan infantri dengan senjata-senjata berat mereka. Peristiwa heroik, berlangsung sekitar 3 minggu. Bung Tomo membakar arek-arek Surabaya melalui siaran radio. Pertempuran tersebut memakan korban yang sangat banyak dari pihak Indonesia, sehingga pada tanggal 10 Nopember diperingati sebagai hari Pahlawan.

Pertempuran Ambarawa

Terjadinya Perang ambarawa yaitu pada tanggal 20 November - 15 Desember 1945 yaitu antara TKR dengan pasukan Inggris. Awalnya, kedatangan sekutu ke Semarang adalah untuk mengurus tawanan perang, namun mereka diboncengi oleh NICA yang kemudian mempersenjatai para tawanan. Sehingga terjadilah perang antara TKR di bawah pimpinan Mayor Sumarto dengan tentara Serikat. Pada pertempuran itu Letkol Isdiman yang merupakan Komandan Resimen Banyumas gugur. Kemudian komando pasukan diambil alih oleh Letnan Kolonel Sudirman yang pada waktu itu menjabat sebagai panglima divisi Banyumas. Tawanan jepang kemudian dimanfaatkan oleh tentara serikat dengan mempersenjatainya supaya ikut dalam pertempuran. Mereka juga mengerahkan tank dan senjata berat yang lainnya. Pada tanggal 12 Desember 1945, pasukan Indonesia melakukan serangan secara serentak. Setelah melakukan pertempuran selama 4 (empat) hari, lalu pasukan Indonesia berhasil melakukan pengusiran kepada tentara Serikat dari wilayah Ambarawa dan memukul mundur mereka hingga ke Semarang.

Medan Area

Mr. Teuku M. Hassan yang diangkat menjadi gubernur mulai membenahi daerahnya. Tugas yang pertama adalah menegakkan kedaulatan dan membentuk Komite Nasional Indonesia untuk wilayah Sumatera. Oleh sebab itu, mulai dilakukan pembersihan kepada tentara Jepang dengan melucuti senjata mereka dan menduduki gedung-gedung pemerintah. Pada tanggal 9 Oktober 1945, di Medan pasukan Serikan melakukan pendaratan, tetapi pasukan tersebut diboncengi oleh NICA. Para Pemuda Indonesia dan Barisan Pemuda segera membentuk TKR di Medan. Pada tanggal 13 Oktober 1945 pertempuran yang pertama pecah pada saat lencana merah putih diinjak-injak oleh tamu di sebuah hotel. Kemudian para pemuda melakukan penyerbuan ke hotel tersebut sehingga menyebabkan 96 korban luka-luka yang ternyata sebagian orang-orang NICA. Bentrokan antar Serikat dan rakyat meluas ke seluruh kota Medan. Peristiwa tersebut dikenal sebagai pertempuran “Medan Area”.

Bandung Lautan Api

Kita sering mendengar istilah Bandung Lautan Api kan? istilah ini menunjukkan terbakarnya kota Bandung pada bagian selatan karena adanya politik bumi hangus yang diterapkan TKR. Peristiwa Bandung Lautan Api terjadi pada tanggal 23 Maret 1946 sesudah adanya ultimatum perintah pengosongan Bandung oleh Sekutu. Seperti halnya pada kota-kota yang lainnya, di kota Bandung juga terjadi pelucutan senjata terhadap tentara Jepang. Di sisi yang lain, tentara Serikat menginginkan supaya persenjataan yang telah dikuasai oleh rakyat Indonesia diserahkan kepada mereka. Para pejuang kemudian meninggalkan Bandung, namun terlebih dahulu membumihanguskan kota Bandung. Peristiwa tragis tersebut lalu dikenal sebagai peristiwa Bandung Lautan Api.

Peristiwa Kapten Westerling

Sulawesi Selatan bergolak, pertempuran ada di mana-mana, Enrekang, Polongbangkeng, Pare-pare, Luwu menjalar ke Kendari, kalaka dengan memakai senjata yang mereka punyai berusaha dengan semaksimal mungkin untuk menangkis serangan Belanda yang senjatanya sudah mukhtakhir, dengan keberanian dan tekat yang bersemboyankan “Merdeka atau Mati”. Pertempuran tidak hanya milik kaum laki-laki saja, tetapi juga untuk Srikandi-Srikandi dari Sulawesi – Emmy Saelan. Sejalan dengan akan dilangsungkannya Konferensi Denpasar pada tanggal 24 Desember 1946 untuk membentuk Negara Indonesia Timur (NIT), maka pada tanggal 11 Desember 1946, Belanda mengumumkan Sulawesi dalam keadaan perang dan hukum militer. “Algojo” Raymond Westerling melakukan pembersihan pada setiap desa. Penduduk yang tidak berdosa turut dibantainya, oleh karenanya korbanya sangat banyak, mencapai sekitar 40.000 orang putra-putra terbaik bangsa demi mempertahankan kemerdekaan.

Peranan Dunia Internasional

Peranan Perserikatan Bangsa-bangsa

Sebagai badan dunia, PBB yang dalam hal ini Dewa Keamanan ikut serta berperan dalam usaha untuk menyelesikan pertikaian, kemudian dibentuklah lembaga yang dikenal dengan sebutan Komisi Tiga Negara (KTN) dengan anggotanya adalah terdiri dari : 1). Belgia merupakan wakil Belanda, 2). Australia merupakan wakil Indonesia & 3). Amerika Serikat sebagai pihak ke 3 yang ditunjuk oleh Belgia dan Australia.

Dewan Keamanan PBB, ikut  mengambil peran dalam upaya penyelesaian pertikaian antara Indonesia dengan Belanda dengan membentuk suatu badan yang kemudian kita kenal dengan Komisi Tiga Negara (KTN) yang mempunyai tugas guna mengawasi secara langsung penghentian tembak menembak sesuai dengan resolusi yang dikeluarkan Dewan Keamanan PBB.

Konferesi Asia di New Delhi dan Resolusi Dewan Keamanan PBB

a. Sikap India terhadap perjuangan Indonesia
Bangsa Indonesia dan India adalah bangsa yang penrah dijajah, maka terjalin rasa senasib, dan sependeritaan. Itu terbukti pada saat India terjadi kelaparan, maka Indonesia memberi bantuan yang berupa padi sebanyak 500.000 ton. Perjanjian bantuan Indonesia kepada India ditandatangani oleh Perdana Menteri Sjahrir dan K.L. Punjabi, yang bertindak sebagai wakil pemerintah India (18 Mei 1946). Kesepakatan tersebut sebenarnya adalah barter antara Indonesia dengan India. Hal tersebut terbukti dari dikirimkannya obat-obatan ke Indonesia oleh India untuk membalas bantuan Indonesia.

b. Konferensi Asia di New Delhi
Angkatan perang Belanda di bawah pimpinan Jenderal Spoor melakukan penyerangan ke ibukota Republik Indonesia pada tanggal 19 Desember 1948 yang berada di Yogyakarta. Tujuan penyerangan tersebut adalah untuk menghancurkan Republik Indonesia sekaligus untuk mengakhiri hidupnya sebagai suatu satuan ketatanegaraan. Selain itu untuk membentuk Pemerintah Federal Sementara tanpa mengikutsertakan Republik Indonesia. Maka muncul reaksi yang keras dari bangsa-bangsa Afrika dan Asia atas tindakan Belanda tersebut yang kemudian diwujudkan dalam penyelenggaraan Konferensi Asia di New Delhi yang diprakarsai oleh Perdana Menteri India, Pandit Jawaharlal Nehru dan Perdana Menteri Birma U Aung San. Konferensi ini dihadiri oleh negara-negara asia, seperti: Pakistan, Afganistan, Sri Lanka, Nepal, Libanon, Siria, dan Irak. Delegasi Afrika berasal dari Mesir dan juga dari Ethiopia. Konferensi Asia di New Delhi tersebut juga turut hadir dari utusan Australia, sedang dari Indonesia diwakili oleh Dr. Sudarsono. Konferensi Asia di New Delhi diselenggarakan selama empat hari, yaitu dari 20-25 Januari 1949. Resolusi yang dihasilkan tentang masalah Indonesia adalah seperti yang berikut ini:
  • pengembalian pemerintah Republik Indonesia ke Yogyakarta 
  • pembentukan Pemerintah ad interim yang mempunyai kemerdekaan dalam politik luar negeri, sebelum tanggal 15-03-1949 
  • penarikan atas pasukan Belanda dari seluruh wilayah Indonesia 
  • penyerahan kedaulatan kepada pemerintah Indonesia Serikat paling lambat dilakukan yaitu pada tanggal 1 Januari 1950.

Resolusi Dewan Keamanan PBB

Adanya pengakuan dari Pemerintah Amerika Serikat secara de facto kepada Republik Indonesia, begitu pula Pemerintah Inggris (1947). Wakil Belanda yang ada di PBB menyatakan bahwa masalah Indonesia adalah masalah dalam negerinya. Wakil Indonesia yang berada di Dewan Keamanan PBB, L.N. Palar menangkis pendapat Wakil Belanda tersebut. Palar memberikan pernyataan yang menyebutkan bahwa persoalan Indonesia adalah persoalan antar dua negara yang berdaulat yaitu, antara Republik Indonesia dengan Kerajaan Belanda. Pandangan Indonesia tersebut didukung oleh wakil-wakil negara dari Asia, Afrika dan Australia. Palar telah berhasil menyakinkan kepada Dewan Keamanan PBB, sehingga pada tanggal 28 Januari 1949 mengeluarkan resolusinya. Isi Resolusi Dewan Keamanan PBB tersebut antara lain meliputi:

1). Penghentian atas semua operasi militer dengan segera yang dilakukan oleh tentara Belanda & penghentian semua aktivitas gerilya yang dilakukan oleh Republik;
2). Pembebasan semua tahanan politik tanpa syarat dengan segera di dalam daerah Republik oleh Belanda sejak tanggal 19 Desember 1949;
3). Belanda harus memberi kesempatan terhadap para pemimpin Bangsa Indonesia untuk kembali ke Yogyakarta;
4. Perundingan-perundingan akan dilaksanakan dalam waktu yang secepat-cepatnya;
5). Mulai sekarang KTN ditukar namanya mjd Komisi Perserikatan Bangsa-Bangsa utk Indonesia (United Nations Commission for Indonesia), spy membantu melancarkan dlm perundingan-perundingan.

Aktivitas Diplomasi

Perjanjian Linggajati

Dalam mempertahankan kemerdekaan dilakukan dengan cara perjuangan fisik (perang) dan melalui diplomasi (perundingan). Sebagai tindak lanjut dari perundingan yang sebelumnya (Perundingan Hoge Veluwe), maka pada tanggal 10 November 1946 dilakukan perundingan antara Pemerintah Indonesai dengan Komisi Umum Belanda. Perundingan dilaksanakan di Linggajati yaitu dekat Cirebon. Perundingan Linggajati dari Belanda dipimpin oleh Lord Killearn dan Sutan Sjahrir dari pihak Indonesia. Isi Perjanjian Linggajati antara lain:
1. Adanya pengakuan dari Belanda secara de facto atas Republik Indonesia yang wilayah kekuasaannya meliputi : Sumatera, Jawa, dan Madura. Belanda harus meninggalkan daerah de facto paling lambat tanggal 1 Januari 1949,
2. Melakuakan kerja sama antara Republik Indonesia dengan Belanda dalam pembentukan Negara Indonesia Serikat yang salah satu negara bagiannya yaitu Republik Indonesia,
3. Pembentukan Uni Indonesia-Belanda oleh Republik Indonesia Serikat dan Belanda dengan Ratu Belanda adalah sebagai ketuanya. Dengan adanya perjanjian Linggajati tersebut, secara politis Republik Indonesia diuntungkan oleh karena adanya pengakuan secara de facto dari pihak Belanda. Perjanjian Linggajati secara resmi ditandatangani pada tanggal 25 Maret 1947 di istana Bijswijk (Istana Merdeka) Jakarta.

Perjanjian Renville

Oleh karena Perjanjian Linggajati merugikan perjuangan bangsa Indonesia, dan kedua belah pihak tidak mampu untuk menjalankan isi perjanjian tersebut, sehingga pertempuran terus belanjut antara pihak Indonesia dengan Belanda. Dalam usaha mengawasi pemberhentian pertempuran tersebut, maka Dewan Keamanan PBB membentuk suatu komisi jasa-jasa baik atau dikenal dengan Komisi Tiga Negara (KTN). Untuk menjalankan tugas dari Dewan Keamanan PBB, kemudian KTN mengadakan perundingan untuk kedua belah pihak dengan tempat perundingan diusahakan di wilayah yang netral. Amerika Serikat lalu mengusulkan agar proses perundingan dilaksanakan di atas kapal pengangkut pasukan angkatan laut Amerika Serikat “USS Renville”. Kapal yang berlabuh di Teluk Jakarta tersebut menjadi tempat untuk berunding yang dimulai tanggal 8-12-1947. Pimpinan delegasi Indonesia adalah Mr. Amir Sjarifuddin, sedangkan dari pihak Belanda yaitu R. Abdulkadir Widjojoatmodjo, yaitu orang Indonesia yang memihak kepada Belanda. Isi Perjanjian Renville antara lain sebagai berikut.
a. Pengakuan dari pemerintah Republik Indonesia yang mengakui kedaulatan Belanda atas Hindia Belanda hingga pada waktu yang ditetapkan oleh Kerajaan Belanda untuk mengakui negara Indonesia Serikat
b. di berbagai daerah di Jawa, Madura, & juga Sumatera dilakukan pemungutan suara guna menentukan apakah daerah-daerah tersebut akan ikut ke RI atau mau ikut ke Negara Indonesia Serikat

Selain itu, isi pokok dari perjanjian tersebut terdapat juga adanya kesepakatan terhadap saran-saran dari pihak KTN yang pada intinya tentang penghentian tembak menembak dan segera diikuti dengan pembentukan daerah-daerah kosong militer (demiliterized zones).

Persetujuan Roem-Royen

Pada Persetujuan ini hanyalah pernyataan dari masing-masing delegasi sajalah yang dihasilkan, hal ini karena belum dicapainya kata sepakat tentang rumusan persetujuan itu. Wakil dari Indonesia adalah Mr. Moh. Roem, sedangkan untuk pihak Belanda oleh DR. Van Royen. Persetujuan (statements) ini terjadi pada tanggal 7 Mei 1949. Masing-masing pernyataan tersebut adalah sebagai berikut.
1).  Pernyataan Mr. Moh. Roem (Indonesia)
a. Memerintahkan kepada “pengikut” RI yang memegang senjata agar menghentikan perang gerilya;
b. Kerja sama untuk pengembalian perdamaian dan menjaga keamanan & juga ketertiban;
c. Turut serta dalam Konfrensi Meja Bundar di Den Haag dengan maksud supaya mempercepat “penyerahan” atas kedaulatan yang sungguh-sungguh dan lengkap kepada Negara Indonesia Serikat dengan tidak bersyarat.
2).  DR. Van Royen (Belanda)
a. Menyetujui kembalinya Pemerintah RI ke Yogyakarta;
b. Menjamin penghentian gerakan militer & membebaskan seluruh para tahanan politik;
c. Tidak akan mendirikan negara-negara yang ada di daerah yang dikuasai oleh RI sebelum tanggal 19-12-1949 & tidak akan meluaskan daerah dengan merugikan Republik;
d. Menyetujui bhw RI mrp bagian dr Negara Indonesia Serikat;
e. Melakukan usaha dengan sungguh-sungguh supaya Konfrensi Meja Bundar segera dilaksanakan sesudah Pemerintah Republik kembali ke Yogyakarta.

Konferensi Meja Bundar (KMB)

KMB dimulai pada tangal 23 Agustus 1949 di Den Haag (Belanda) dan berakhir tanggal 2 November 1949. Meskipun KMB berakhir tanggal 2 November 1949, tetapi upacara pengakuan terhadap kedaulatan baru dilakukan penandatanganan pada tanggal 27 Desember 1949. Isi KMB antara lain :
  • Kerajaan Belanda mengakui kedaulatan sepenuhnya atas Indonesia, tanpa syarat dan tidak bisa dicabut kembali kepada Republik Indonesia Serikat
  • Pengakuan kedulatan tersebut akan dilakukan selambat-lambatnya tanggal 30 Desember 1949 
  • Mengenai Irian Barat akan lakukan perundingan kembali dalam waktu 1 tahun sesudah pengakuan kedaulatan kepada RIS 
  • Dibentuk Uni Indonesia Nederland antara RIS dan Kerajaan Belanda dengan Ratu Belanda sebagai ketuanya.
  • Kapal-kapal perang Belanda akan ditarik kembali dan sebagian diserahkan kepad RIS
  • Segera akan dilakukan penarikan mundur atas semua tentara Belanda

Pengaruh Konflik Indonesia-Belanda

Terbentuknya negara-negara bagian

Pada perjanjian Linggajati terdapat adanya butir mengenai rencana pembentukan negara Serikat, sehingga RI terdiri atas negara-negara bagian. Belanda menginginkan sebanyak mungkin negara bagian dalam RIS sebagai negara bonekanya. Pengertian negara boneka tersebut adalah negara-negara bagian yang dibentuk Belanda, oleh karenanya hal tersebut akan sangat menguntungkan posisi Belanda dalam RIS. Kesadaran atas pluralis Indonesia oleh Belanda, tentu dengan negara Serikat dapat untuk menerapkan politik pecah-belah.

Negara-negara yang dibentuk Belanda antara lain
  • Negara Indonesia Timur : meliputi Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Maluku dengan presidennya yaitu Tjokorde Gede Raka Sukawati. 
  • Negara Sumatera Timur, yang menjadi wali negaranya adalah Dr. Mansjur. 
  • Negara Madura, Kepala negaranya adalah Tjakraningrat. 
  • Negara Pasundan, Wali negaranya adalah Wiranatakusumah. 
  • Negara Sumatera Selatan : Kepala negaranya adalah Abdul Malik.
  • Negara Jawa Timur : Kepala negaranya adalah Kusumonegoro (Bupati Banyuwangi).
Disamping 6 (enam) negara tsb juga dibentuk daerah-darah istimewa/ otonom yg terdiri dr: Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Dayak Besar, Banjar, Kalimantan Tengah, Bangka, Kalimantan Tenggara, Bangka Belitung, Riau, dan Jawa Tengah. Dari hal tersebut terlihat betapa besarnya keinginannya dari Belanda untuk mendominasi di dalam RIS yang rencananya akan dibentuk kemudian.

Perjuangan Kembali ke Negara Republik Indonesia

Salah satu diktum dari hasil Konferensi Meja Bundar (KMB) yaitu pengakuan Belanda terhadap Republik Indonesia Serikat. Sepertinya, isi perjanjian tersebut merugikan pihak Republik Indonesia. Ditandatanganinya perjanjian tersebut hanyalah sebuah taktik perjuangan. Hal tersebut terbukti bahwa persatuan berada di atas segalanya bagi bangsa Indonesia. Apabila dihitung lamanya, RIS tidak ada setahun berdiri (27 desember 1949 sampai 17 Agustus1950). Hal tersebut disebabkan  oleh karena mulai tanggal 17 Agustus 1950 bangsa Indonesia kembali ke bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia. Persiapan dalam upaya kembali ke negara kesatuan telah dilakukan beberapa bulan sebelumnya. Rakyat yang berada di negara bagian menuntut agar negara RIS dibubarkan dan kembali ke negara kesatuan. Sebagai contoh adalah di Jawa Barat, pada tanggal 8 Maret 1950 melakukan demonstrasi supaya negara Pasundan dibubarkan. Begitu pula untuk Negara Indonesia Timur (NIT) dan negara Sumatera Timur. Kesempatan untuk kembali ke negara kesatuan tercapai sesudah dilakukan perundingan antara RIS dengan Republik Indonesia (RI) pada tanggal 19 Mei 1950. Hasil perundingan tersebut ditindaklanjuti dengan usaha untuk mempersiapkan UUD negara yang akan dibentuk tersebut. Pada tanggal 15 Agustus 1950, Presiden Soekarno melakukan penandatanganan Rancangan UUD yang dikenal dengan sebutan Undang-Undang Dasar Sementara Republik Indonesia 1950 (UUDS 1950). Stlh kelengkapan tsb dipunyai, maka pemerintah mengumumkan pembubaran RIS dan kembali ke Negara Kesatuan Republik Indonesia dgn menerapkan UUDS 1950 yaitu pada tanggal 17 Agustus 1950.


Artikel www. Aanwijzing.com : Ayo membaca...!!! Lainnya :

Copyright © 2016 Aanwijzing.com | Google.com | Google.co.id | Design by Bamz | Powered by Blogger.